Saya suka jalan-jalan. Kemana saja, asalkan keluar dari
rumah, saya sebut itu adalah jalan-jalan. Mungkin bahasa kerennya adalah
travelling. Jujur saja, saya ini orangnya mudah bosan. Termasuk dengan jakarta.
Saya bosan dengan kota metropolitan yang super glamour itu. Mungkin dulu tidak.
Ya, meskipun alamat rumah saya di KTP adalah di Kabupaten Bogor, tapi saya dilahirkan dan dibesarkan di Jakarta. Saya
menjalani hidup saya sampai separuh masa SD saya di Jakarta. Sejak kelas empat SD sampai lulus SMA saya
tinggal di Bogor, tepatnya di Pinggiran Jakarta. Dan kini saya harus kembali
lagi ke Jakarta, untuk berkuliah. Dan tinggal di Jakarta. Selama kurang lebih
empat tahun. Dan inilah alasan saya kenapa saya begitu rajin kuliah. Agar saya
cepat meninggalkan jakarta.
Tapi belum ada satu tahun saya di menjalani hari-hari saya
di kota yang sebenarnya tidak terlalu luas ini, saya sudah merasa bosan. Cuaca yang
panas, macet di setiap sudut, kejahatan yang mengancam setiap langkah saya,
asap kendaraan, belum lagi baya hidup yang mahal. Dan bagaimana dengan
lingkungannya? Saya saja tidak tahu berapa penghuni di rumah sebelah saya,
apalagi siapa pak RT di lingkungan rumah saya. Mereka hidup masing-masing. Oh mungkin
bukan mereka, tapi kita. Saya dan juga mereka.
Saya muak dengan apa yang saya temui disini. Saya heran
kenapa orang-orang desa berbondong-bondong hijrah ke Jakarta. Apa yang mereka
harapkan dari sang ibukota? Kekayaan? Kedamaian? Baaah... bukannya lebih nyaman
tinggal di desa, dengan udara segar, air yang jernih, Hijau dimana-mana,
penduduk yang ramah, dannn ketenangan tanpa macet. Dan itulah sebabnya saya
suka jalan-jalan. Tapi bukan jalan-jalan di jakarta :D.
Oke, baiklah. Saya baru ingat. Tadinya saya ingin
membicarakan tentang hobi saya, yaitu travelling. Mungkin hobi itu menurun dari dari ayah saya.
Sejak ABG, ayah saya senang mendaki gunung. Sampai-sampai diwaktu remaja dia
membuka usaha penjualan alat-alat pecinta alam. Jenius. Hobi yang menghasilkan
uang. Tidak berbeda jauh dengan saya. Hanya saja, saya bukan hanya menyukai
mendaki, tetapi saya suka mengunjungi semua tempat. Baik itu gunung, pantai, desa,
atau bahkan musium.
Saya perempuan, saya
menderita alergi dingin, dan saya bukan anak orang kaya. Tapi itu bukan
penghalang bagi saya untuk menjadi penjelajah. Penjelajah bumi. Haha,
kedengarannya keren sekali... saya punya cukup modal untuk menjadi penjelajah,
yaitu keberanian, nekat, dan cukup pengetahuan tentunya.
Dari kecil saya sudah terbiasa dengan perjalanan jauh. Bahkan
dari cerita ibu saya, saat usia saya baru beberapa minggu saya sudah memulai
perjalanan saya ke jawa timur menggunakan bus maupun kereta. Entahlah saya saja
tidak pernah ingat apa yang terjadi dengan saya saat usia saya masih balita :p.
Yang saya ingat, saat usia saya belum genap empat tahun, saya sudah merasakan
tanah semeru dan bromo. Begitu pula cidahu. Setidaknya itu yang saya lihat dari
album foto masa kecil saya.
Sebenarnya saya penakut. Hanya saja sisi penakut dalam diri
saya sedikit tersamarkan oleh jiwa pemberani yang menyelinap dalam DNA ayah
saya yang ada dalam aliran darahku. Dan dari sanalah kisah petualanganku
sebagai penjelajah bumi, dimulai .. hahhaha (ketawa pahlawan bertopeng)